FGD Komunitas HAKI Lampung – 10

RTL FGD HAKI 26 10 2015 RTL WS KI 21 03 2017

Rencana tindak lanjut terhadap hasil focus group discussion bisa berupa proposal pengabdian masyarakat dengan metode TVET (Technical Vocational Education and Training), bisnis melibatkan Puslitbang HAKI LPPM Unila, Sentra HKI UBL, Bagian Perencanaan Unila, Pemkab LamSel, dan Dinas Pariwisata & Ekonomi Kreatif. Lokasi tempat kedudukan kegiatan adalah Kota Bandar Lampung (tempat koordinasi pendaftaran HAKI) dan Menara Siger (tempat koordinasi komersialisasi HAKI). Rencana tindak lanjut workshop kekayaan intelektual serupa dengan itu, tentu disesuaikan dengan semua Perda Provinsi Lampung khususnya Perda No. 4 /2016 tentang Perlindungan Karya Intelektual Masyarakat Lampung.

TVET fokus pada ketrampilan untuk reduksi kemiskinan, pemulihan ekonomi, dan pengembangan berkelanjutan. TVET terdiri atas pembelajaran formal, non-formal, dan informal untuk dunia kerja, membangun ketrampilan untuk kerja dan kehidupan dengan pembelajaran di Kota Bandar Lampung, praktik workshop di Menara Siger yang mempunyai peta wisata seluruh kabupaten /kota se-Lampung. Nanti Alumni FGD /Workshop Kekayaan Intelektual tergabung dalam Komunitas (HA)KI Lampung bisa mengisi tempat itu dengan info tentang produk dan jasa yang sudah terlindungi HAKI-nya, terkait icon seni, budaya, dan pendidikan, termasuk teknologi untuk beribadah melaksanakan agama misalnya sholat counter untuk menghitung jumlah rakaat. Tindak lanjut workshop kekayaan intelektual seharusnya bisa meningkatkan daya saing perekonomian (Lampung pada khususnya).

Tempat pembelajaran HAKI di Kota Bandar Lampung, bisa mengambil tempat di kampus-kampus dengan home base camp di Rumah Dinas Wakil Rektor III Unila untuk panitia pelaksana pendidikan & latihan dasar HAKI dan show room produk (asli) Lampung yang ber-HAKI misalnya paten, desain (produk) industri, warisan budaya yaitu produk kerajinan, icon (merchandise), kuliner, souvenir (griya kayu), dll. Di samping itu bisa dimanfaatkan Lapangan Enggal sebagai lokasi pemanfaatan teknologi informasi (dekat PT Telkom), pemasaran (dekat pertokoan, mall), rumah kerajinan (dekat komunitas pengrajin). Tempat praktik workshop /loka karya di Menara Siger yang mempunyai ruang-ruang penampil budaya Lampung, sarana pra-sarana pariwisata, fasilitas menara pandang wisatawan melihat Pelabuhan Bakauheni dan keindahan panorama alam laut dan sekitarnya.

Bangunan Menara Siger berisi data asta gatra, yaitu trigatra mencakup letak geografis, demografis dan kekayaan sumber daya alam (SDA). Berikutnya panca gatra, yaitu berisi ideologi dan hankam. Dengan demikian para turis tidak perlu banyak bertanya. Referensi.

Menara Siger berisi data asta gatra dengan dua kategori berikut yaitu:

1] Tri gatra ialah: a> Letak kedudukan geografi, b> Keadaan kekayaan alam, c> Keadaan kemampuan penduduk;

U/ Letak kedudukan geografis, Menara Siger terletak di Bakauheni, daratan Sumatera yang paling dekat ke Jawa (potensi pemasaran yang besar), tempat produsen berbagai komponen penyusun suatu produk yang difabrikasi dari inovasi yang terlindungi dengan Sertifikat HAKI. Letak ini juga berpengaruh pada iklim yang kondusif. Contohnya suatu produk teh, jika saja iklim tidak mendukung maka daya saing di pasar akan menurun karena tanaman teh belum dapat diproduksi. Ini dikarenakan iklim yang tidak mendukung bisa kemarau yang berkepanjangan atau ada sebab lain.

U/ Keadaan kekayaan alam Lampung dengan luas ± 3.528.835 ha, Provinsi Lampung memiliki potensi sumber daya alam yang sangat beraneka ragam, prospektif, dan dapat diandalkan untuk meningkatkan daya saing perekonomiannya. Teori keunggulan komparatif merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya, didukung oleh kekayaan alamnya. Variabel infrastruktur dan sumber daya alam terdiri atas

a. Modal alamiah

Y1 = ketersediaan dan kualitas sumber daya lahan

Y2 = sumber daya air

Y3 = sumber daya hutan

b. Modal fisik

Y4 = luas wilayah perkotaan

Y5 = panjang jalan per-luas wilayah perkotaan

Y6 = kualitas jalan raya

Y7 = produksi listrik

Y8 = fasilitas telepon per-kapita

U/ Keadaan kemampuan penduduk, bisa direpresentasi kemampuan kampus. Diketahui bahwa UBL sudah mendaftarkan logo-nya sebagai merek di DJKI. Adapun keunggulan kompetitif lebih mengarah pada bagaimana suatu daerah itu menggunakan keunggulan-keunggulannya itu terutama kemampuan penduduknya untuk bersaing atau berkompetisi dengan daerah lain. Variabel SDM dengan sub-variabel sbb

a. Pendidikan –>

tingkat partisipasi siswa

rasio jumlah pengajar terhadap siswa

b. Ketenagakerjaan

Z1 = angka ketergantungan

Z2 = angkatan kerja

Z3 = persentase angkatan kerja

Z4 = persentase jumlah penduduk usia produktif terhadap total penduduk

Z5 = jumlah penduduk yang bekerja

Z6 = pengangguran

2] Panca gatra ialah: d> Ideologi, e> Politik, f> Ekonomi, g> Sosbud, h> Hankam.

U/ ideologi berkorelasi dengan ketahanan nasional. Bagai mana ideologi Pancasila berkompetisi dengan ideologi kapitalisme, mendorong inovasi dalam ipteks guna meningkatkan daya saing bangsa.

U/ politik dan keamanan yang stabil meningkatkan daya saing perekonomian negara dibandingkan dengan yang bergolak politiknya, keamanan tidak stabil.

U/ ekonomi, terutama makro ekonomi merupakan indikator daya saing dilihat dari beberapa aspek seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga /inflasi, tenaga kerja, dan pencapaian keseimbangan neraca antara ekspor dan impor. Termasuk di dalamnya kualitas infra-struktur. Variabel perekonomian daerah mempunyai sub-variabel yaitu:

a. Nilai tambah –>

X1 = PDRB (Product Domestic Regional Bruto)

X2 = laju pertumbuhan PDRB

X3 = PDBR per-kapita

b. Tabungan –>

X4 = jumlah tabungan

X5 = laju pertumbuhan tabungan

c. Kinerja sektoral –>

X6 = laju pertumbuhan sektor industri

X7 = laju pertumbuhan sektor jasa

X8 = laju pertumbuhan sektor pertanian

U/ sosbud, ada WBTB yaitu sulam usus, gulai taboh, seruit, cakak pepadun, dan sekura cakak buah. Sebelumnya terdapat gamolan, tari melinting, tari sigeh pengunten, muayak, dan rumah adat Lampung Barat. Yang akan menyusul adalah meduaro Tulang Bawang, sulam ulat Mesuji, ringgit, bebandung. Termasuk di dalamnya pendidikan dasar dan kesehatan. Menurut Laporan MDGS pada 2010 bidang kesehatan masih perlu ditingkatkan terutama dalam masalah gizi buruk, kematian ibu sewaktu melahirkan, dan penyakit HIV /AIDS.

U/ hankam, industrinya bisa ditingkatkan daya saingnya dengan teknologi, terutama teknologi tinggi untuk pesawat, kapal, dan kendaraan darat.

PENGERTIAN DAYA SAING

http://haezersianturi.blogspot.com.au/2014/11/pengertian-daya-saing-dan-indikator.html

Pada dasarnya wilayah yang memiliki produk akan berhasil bila produk yang dibuatnya /diciptakan memiliki sesuatu yang lebih dari yang lain sehingga harga yang akan dibuatnya akan semakin tinggi. Daya saing merupakan kemampuan menghasilkan produk barang dan jasa yang memenuhi pengujian (nasional /internasional), dan dalam saat bersamaan juga dapat memelihara tingkat pendapatan yang tinggi dan berkelanjutan, atau kemampuan daerah menghasilkan tingkat pendapatan dan kesempatan kerja yang tinggi dengan tetap terbuka terhadap persaingan eksternal.
Daya saing juga dapat juga diartikan sebagai kapasitas bangsa untuk menghadapi tantangan persaingan pasar internasional dan tetap menjaga atau meningkatkan pendapatan riil-nya.

Ada beberapa pengertian daya saing yang mencakup wilayah, yaitu:
1.  Daya saing tempat (lokalitas dan daerah) merupakan kemampuan ekonomi dan masyarakat lokal (setempat) untuk memberikan peningkatan standar hidup bagi warga /penduduknya .
2. Daya saing daerah berkaitan dengan kemampuan menarik investasi asing (eksternal) dan menentukan peran produktifnya .
3. Daya saing daerah adalah kemampuan perekonomian daerah dalam mencapai pertumbuhan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan dengan tetap terbuka pada persaingan domestik dan internasional .

INDIKATOR PEMBENTUK DAYA SAING

  1. Lingkungan usaha kondusif.
  2. Perekonomian daerah.
  3. Ketenagakerjaan dan SDM.
  4. Infrastruktur, SDA, dan lingkungan.
  5. Perbankan dan Lembaga Keuangan.

Tinggalkan Balasan