Knowledge and Technopark

Institusi ini sebaiknya dibangun secara virtual oleh CCED bersama Puslitbang Inkubator Bisnis mendahului bentuk fisiknya di kampus Unila dalam rangka mendukung pembangunan banyak technopark di seluruh penjuru Indonesia, khususnya yang ada di bumi Lampung misalnya Technopark Lampung Tengah. Bandung Techno Park bisa dijadikan acuan pengembangannya. Untuk kemajuan knowledge and technopark dimintakan pengawalan oleh Puslitbang Inkubator Bisnis (Puslitbang9) untuk perintisan badan usaha untuk komersialisasi tiap produk Kekayaan Intelektual yang terpilih, disesuaikan dengan business sophistication-nya. Sedangkan semua produk kekayaan intelektual yang TIDAK dipilih, diusahakan dikomersialisasi melalui sarana kontribusi Puslitbang HAKI melalui outsourcing company yaitu BADAN USAHA PERSEKUTUAN yang tergabung dalam Badan Pengelola Usaha Universitas Lampung sebagai holding company. Puslitbang HAKI menggunakan laman di URL http://staff.unila.ac.id/shki yang dikelola langsung sendiri sebagai media pengelolaan produk Kekayaan Intelektual dan laman http://sentra-hki-unila.webs.com yang dikelola melalui yayasan milik Puslitbang HAKI sebagai media komersialisasi HAKI.

Badan Usaha Persekutuan dikembangkan oleh Yayasan milik Puslitbang HAKI Unila (ia juga mengelola Klinik HAKI). Badan Usaha Persekutuan ditentukan jenisnya selaras dengan Program IbKIK di mana Misi (program) IbKIK adalah menciptakan AKSES sosialisasi (marketing, commercialization) produk-produk intelektual dosen (beserta sivitas akademik lainnya) dalam kerangka pemenuhan kebutuhan masyarakat, per-tanggal 31-08-2017 terdaftar di DJKI total sejumlah 113 yang terdistribusi ke: a) Kedaulatan pangan; b) Kedaulatan energi; c) Kemaritiman; d) Perindustrian; e) Pariwisata. Tujuan (program) IbKIK adalah:

a) Mempercepat proses pengembangan budaya kewirausahaan di perguruan tinggi –> melalui pembentukan SPV berupa technology start up corporation di mana jajaran direksi tidak boleh dirangkap oleh PNS sehingga untuk keperluan itu perlu direkrut para mahasiswa yang menjadi bimbingan para inventor yang bersangkutan dan sudah berstatus lulus kuliah kerja nyata.

b) Membantu menciptakan akses bagi terciptanya wirausaha baru –> melalui pembentukan SSO berupa yayasan di mana jajaran kepemimpinannya boleh dirangkap oleh PNS (terutama para dosen yang dekat dengan para inventor terkait plus para mahasiswa yang telah lulus KKN). Selanjutnya SSO membina para mahasiswa agar siap menjadi SDM di SPV terkait dengan titik fokus pada produk HAKI yang dikembangkan dan dikomersialisasi. Di samping itu SSO diserahi tugas melakukan tindakan hukum terkait pelanggaran hukum terhadap produk HAKI yang dikelolanya.

c) Menunjang otonomi kampus perguruan tinggi melalui perolehan pendapatan mandiri (LPPM) atau bermitra (FAKULTAS) melalui seluruh SPV yang berhasil mengumpulkan banyak kontrak komersialisasi produk HAKI dengan kalangan industrialis, serta melalui semua SSO yang berhasil mengoleksi nota kesepahaman dengan kalangan stake holder terkait produk HAKI.

d) Memberikan kesempatan dan pengalaman kerja kepada para mahasiswa di SPV, SSO, dan usaha-usaha terkait semua itu sehingga kepentingan pendidikannya seperti kerja praktik dan skripsi terbantu juga. Skema magang di balai kota DKI di mana pemagang diberi dana operasional, bisa dijadikan contoh dan referensi.

e) Mendorong berkembangnya budaya pemanfaatan hasil riset perguruan tinggi bagi masyarakat khususnya di perdesaan dan kawasan industri yang diantarkan oleh SPV & SSO terkait, diawali dengan penawaran produk yang sudah dikemas disesuaikan dengan kebutuhan customer/masyarakat konsumen.

f) Membina kerja sama dengan sektor swasta termasuk pihak industri dan sektor pemasaran yang dimotori oleh para eksponen dan aktivis dalam SPV & SSO. Kerja sama difokuskan pada bidang produk HaKI yang sudah granted dan dikuasai oleh Unila. Setelah itu persiapan pada bidang produk HaKI milik Unila yang sudah terdaftar di DJKI.

Nantinya diproyeksikan sebagai leading sector adalah UPT Pengembangan Karir dan Kewirausahaan (CCED) karena knowledge and technopark dibutuhkan untuk mengomersialisasi produk barang dan jasa yang telah dilindungi HAKI-nya oleh NKRI via DJKI. Seandainya CCED tidak mau menangani Knowledge & Technopark, harapan sepenuhnya tertumpu pada Puslitbang Inkubator Bisnis. Seandainya Inkubis tidak mau menginisiasi Technopark itu, the last resources adalah Puslitbang HAKI yang harus memproses itu walau pun tertatih-tatih. Nantinya tiap satu produk  ditangani oleh satu start up corporation yang dikategorikan sebagai special purpose vehicle (SPV) sedangkan satu supporting system organization (SSO) bisa menangani beberapa produk HAKI.

LINI PEMASARAN dikoordinasi oleh UPT Pengembangan Kerja Sama dan Layanan Internasional melalui berbagai jalur sebagai berikut:

1) Jalur tradisional via BP KKN Unila dan seluruh posdaya.

2) Jalur internal via KPRI Bina Dharma dan semua koperasi fakultas –> Ini sekali gus jaringan keuangan, bekerja sama dengan bank-bank yang sudah ada di Unila yaitu Bank BNI, Bank Lampung, dan Bank Bukopin.

3) Jalur eksternal via kerja sama dengan perusahaan reseller dimulai dari BUMN.

4) Jalur extra ordinary dengan cara-cara luar biasa dimulai dari Pemda, Investor, kalangan industri.

LINI PRODUKSI dikoordinasi oleh UPT Laboratorium Terpadu dan Sentra Inovasi Teknologi bekerja sama dengan semua laboratorium, bengkel, studio, kebun percobaan dan institusi sejenis plus perusahaan sub-contractor yang berkompeten, dikoordinasikan oleh inkubator bisnis di level jurusan atau level fakultas yang biasa disebut sebagai LBT, lembaga bantuan (ke-) teknik (-an) dan LBH, Lembaga Bantuan Hukum dibantu sepenuh hati dan total oleh SPV terkait.

PRODUCT DEVELOPMENT dikerjakan oleh para inventor pemilik HAKI didukung Peer Group tempat mereka bernaung, dibantu oleh supporting system organization (SSO) untuk strategi hilirisasi inovasi dan pengkaderan inovator untuk tiap jenis produk yang sedang digarap bersama. Nantinya SPV dan SSO berkomunikasi dan bekerja sama intensif menggarap produk yang telah terlindungi HAKI-nya.

IbKIK yang sedang dikembangkan HAKI LPPM Unila adalah IbKIK yang berada di pusat penelitian (riset) dan pengembangan dalam LPPM. Jurus perkembangannya adalah riset (penelitian) dan pengembangan penguasaan ilmu pengetahuan, ketekunan berusaha dan kejelian menangkap peluang yang ada di masyarakat.

LUARAN KEGIATAN program IbKIK dapat berupa:

  1. Unit usaha (SPV) di perguruan tinggi (level laboratorium, studio, bengkel, kebun percobaan, dll) yang memfabrikasi produk HAKI secara terus menerus.
  2. Produk jasa dan atau barang komersial, model, atau purwarupa hasil karya hilirisasi inovasi oleh SSO yang terjual dan menghasilkan pendapatan bagi perguruan tinggi.
  3. HKI dalam bentuk hak cipta, paten, dlsb.
  4. Wirausaha-wirausaha baru (para mahasiswa yang aktif di SPV dan SSO) berbasis iptek sehingga diharapkan dapat memberi dampak berkembang dan meluasnya budaya KEWIRAUSAHAAN dan pemanfaatan hasil riset mau pun pendidikan di perguruan tinggi dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat.
  5. Pembaharuan ilmu pengetahuan dan teknologi di perguruan tinggi melalui kiprah karya nyata yayasan yang menghimpun unit usaha yang saling berkaitan.
  6. Hasil kegiatan wajib disebarluaskan dalam bentuk artikel ilmiah dalam jurnal /majalah internasional dan media massa lain (pada akhir tahun ke-3 harus dihasilkan publikasi pada jurnal inernasional yang telah di-accepted).

PENGABDIAN MASYARAKAT PUSLITBANG HAKI DIKERJAKAN MELALUI STANDARD OPERATION PROCEDURE STANDAR SEBAGAI BERIKUT:

  1. SOSIALISASI /SARASEHAN HAKI –> Proyek Konsolidasi Internal (Pembangunan Sistem HKI Fakultas semua yang ada di Unila) plus Dikominfo, Dikersa di level jurusan, agar lebih mudah membangun SPV & SSO, dll.
  2. PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA –> Proyek Sosialisasi HKI /Patent Drafting Training /Workshop yang dikelola Sistem HKI Fakultas plus jurusan, pengkaderan pengurus Puslitbang HAKI, pengkaderan konsultan HAKI, dll.
  3. KONSULTAN KEKAYAAN INTELEKTUAL –> Proyek Pendaftaran HKI atas nama Universitas Lampung (Hak Cipta [sudah punya login di https://e-hakcipta.dgip.go.id/ ], Merek [melalui Kanwil Kemenkumham], Paten [diantar langsung ke DJKI atau online di https://efiling.dgip.go.id/efiling/], dll [dijelaskan di http://haki.unila.ac.id ]).
  4. MANAJEMEN ASET HAKI –> Proyek MoU Unila – Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Kemenkumham) plus Kanwil KemenkumHAM (terlaksana 26 April 2017), SSO, pembentukan yayasan Jasa Konsultasi dan Manajemen, dll.
  5. EXPO /PAMERAN /PROMOSI –> Proyek MoU Unila – Badan Pengkajian & Pengembangan Kebijakan Perdagangan (Kemendag) plus WTC, Expo, desa binaan, Menara Siger, kerja sama dengan Puslitbang Inkubator Bisnis, UPT CCED, dll.
  6. Layanan HAKI bagi Inventor –> Proyek MoU Unila – Kementerian Koperasi & UKM (HAKI gratis dan perintisan usaha /Start Up) plus Dekopin, Himpunan Komunitas Inventor Inovator Universitas Lampung, SPV, dll.
  7. EVALUASI DAN PUBLIKASI –> Dalam laporan tahunan Puslitbang HAKI dan publikasi dalam forum rapat kerja, forum regional Lampung, forum ASKII, jurnal, majalah, Media HAKI, artikel, makalah, leaflet, poster, spanduk, eks banner, dll.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *